Designer Goes to Open Source, Menggunakan Aplikasi Opensorce untuk Mendesain

Kalau Indonesia saat ini sedang mengusung program IGOS, Indonesia Goes to Open Source, begitu pula dengan UGM dengan UGOSnya, sayapun tak mau ketinggalan untuk mengikuti langkah mereka. AGOS, Adam Goes to Open Source (sepertinya keren juga ya dijadikan istilah?) Hehehe. Poinnya,  untuk mengerjakan pekerjaan desain saya sehari hari, saat ini saya sudah mulai melangkah menggunakan aplikasi yang bersifat Open Source. Alasannya cukup sederhana dan tidak jauh dari motif ekonomi😀. Teman-teman tahu sendiri kan berapa harga software desain yang berbayar? Adobe Photoshop harganya mencapai 6 jutaan, sedangkan Corel Draw harganya mencapa 3,2 jutaan. Padahal software-software tadi adalah software andalan saya.

Man behind The Gun

Istilah tersebut saya kira tidak mengada-ada. Apapun toolsnya, alatnya, fasilitasnya jika ada di tangan orang yang berkompeten dan berkeahlian bisa tetep menghasilkan karya yang bermutu. Apalagi kalau tools yang dipakai kualitasnya tidak jauh beda. Contohnya saja, software Photoshop vs Gimp, Corel/illustrator vs Inkscape, software yang saya sebutkan di atas sama-sama mempunyai kehebatan masing-masing. bedanya cuma di harga, yang satu harganya jutaan rupiah, yang satunya cuma 0 (nol) rupiah😀

Pembiasaan diri

Sebenarnya, beralih ke software yang gratis/opensource tadi tidak repot, kok. Hanya saja memang perlu pembiasaan dalam menggunakannya. Insya Allah jika digunakan terus menerus, kemampuan kita menggunakan software opensource semakin handal.

Hal ini sudah saya praktekkan langsung di lapangan. Dengan menggunakan software Inkscape saya berhasil membuat desain web yang bisa dibilang tidak kalah bagusnya dengan ketika saya membuatnya dengan Photoshop. Penasaran ingin tahu hasil kerjaan saya seperti apa? Lihat gambar di bawah.

Gambar di atas adalah WordPress theme untuk website Pondok Ibu yang saya buat beberapa bulan lalu. Benar, kan yang saya bilang kalau desainnya tidak kalah bagus dengan desain yang dibuat menggunakan Photoshop? Hehehe PD banget.

Inkscape juga punya kelebihan

Kelebihan yang saya rasakan ketika menggunakan inkscape adalah kemudahannya saat digunakan untuk membuat gambar-gambar kurva tak beraturan seperti gambar karakter di atas. Kemudian, Inkscape juga bagus ketika digunakan untuk memberi warna gradasi. Satu hal yang saya rasakan sebagai kekurangan Inkscape dibanding dengan software pengolah verkor sejenis adalah Inkscape tidak mendukung multi page seperti pada Corel Draw. Coba saja kalau sudah support multi page, dijamin tambah keren.

Nah, mungkin ini saja yang bisa saya share terkait dengan penggunaan software opensource bagi desainer. Yang jelas, dari segi kehalalan sih software opensource lebih menetramkan daripada software bajakan. (meskipun masih berat untuk meninggalkan sepenuhnya )😀

Ini ceritaku, apa ceritamu?

7 Komentar

Filed under Design

7 responses to “Designer Goes to Open Source, Menggunakan Aplikasi Opensorce untuk Mendesain

  1. Setuju banget… Klo selama ini ada orang bilang pake opensource itu susah, itu semua karena tidak terbiasa. Klo misalnya dari awal mereka direcokin ama opensource (tanpa mengenal terlebih dahulu “jendela” dan kawan-kawan), ane yakin mereka jg bakal jago makenya🙂

    • heeh bang… betul, ala bisa karna biasa😀
      yg jelas, klo dah terbiasa enak jg kok makenya. terkadang kita menemukan kemudahan2 dlm software opensource

      makanya bagi awam komputer yg mo belajar, baiknya langsung dicekoki opensource apa ya? haha

    • Nggak juga, Kang. Buktinya dukungan natif CMYK untuk Inkscape sendiri belum ada. Dan realitasnya dominasi CorelDRAW adalah mutlak. Imbasnya adalah segala bentuk komersialisasi (percetakan, majalah-majalah desain profesional, standar, dkk.) pasti tidak menggunakan Inkscape melainkan CorelDRAW. Terbiasa sehebat apa pun kalau sudah kena begituan, ujungnya susah juga, lagi.

      Yang bisa dilakukan adalah proof yang banyak banget bahwa open source bisa ini dan bisa itu.

      • iya, betul juga mas. realita di dunia industri memang corel draw yng dominan, bahkan Ai/Indesign saja kalah santer.
        terpaksa balik lagi pakai Cdr.

  2. Sipp…Aku juga smakin tertarik dg os ubuntu ato linux lainnya, mulai tdk tergantung dg si jendela

  3. 503w0nd0Suwondo

    Benar mas, saya juga sering berkreasi menggunakan gimp, dan hasilnya tak kalah menarik ……

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s